*Btw bagi yang baca ini jangan protes ya... Maklum namanya juga sedang berbadan dua untuk yang pertama kalinya, akhirnya hampir tiap hari saya selalu mencari info tentang perkembangan janin di dalam kandungan. Jadi daripada capek browsing tiap hari kan lebih baik saya simpan di blog saya ini, jadi kalau penasaran bisa ngecek di blog secara tiap hari ngecek blog saya ini.*
Janin usia 8 Minggu
Seluruh organ tubuh utama bayi telah terbentuk meskipun belum berkembang sempurna. Mata dan telinga mulai terbentuk. Jantung berdetak kuat. Dengan ultrasound kita dapat melihat jantung janin berdenyut.
Janin usia 12 Minggu
Panjang janin sekarang sekitar 6,5 cm dan bobotnya sekitar 18 gram. Kepala bayi menjadi lebih bulat dan wajah telah terbentuk sepenuhnya. Jari-jari tangan dan kaki terbentuk dan kuku mulai tumbuh. Bayi mulai menggerak-gerakkan tungkai dan lengannya, tetapi ibu belum dapat merasakan gerakan-gerakan ini.
Janin usia 16 Minggu
Panjang janin sekarang sekitar 16 cm dan bobotnya sekitar 35 gram. Dengan bantuan scan, kita dapat melihat kepala dan tubuh bayi, kita juga dapat melihatnya bergerak-gerak. Ia menggerak-gerakkan seluruh tungkai dan lengannya, menendang dan menyepak. Inilah tahap paling awal di mana ibu dapat merasakan gerakan bayi. Rasanya seperti ada seekor kupu-kupu dalam perutmu. Tetapi, ibu tidak perlu khawatir jika belum dapat merasakan gerakan ini. Jika si bayi adalah anak pertama, biasanya ibu agak lebih lambat dalam merasakan gerakannya.
Janin usia 20 Minggu
Bayi masih berenang-renang dalam lautan air ketuban. Ia tumbuh dengan pesat, baik dalam bobot maupun panjangnya yang sekarang telah mencapai 25 cm, yaitu separuh dari panjangnya ketika ia dilahirkan nanti dan bobotnya sudah sekitar 340 gram. Bayi membuat gerakan-gerakan aktif yang dapat dirasakan ibu. Mungkin ibu memperhatikan ada saat-saat di mana bayi tampaknya tidur, dan saat-saat lain di mana ia melakukan banyak gerak.
Janin usia 24 Minggu
Sekarang panjang bayi sekitar 32 cm dan bobotnya 500 gram. Ibu dapat merasakan bagian-bagian tubuh bayi yang berbeda yang menyentuh dinding perutnya. Otot rahim ibu meregang dan terkadang ibu merasakan sakit di bagian perutnya.
Janin usia 30 Minggu
Kepala bayi sekarang sudah proporsional dengan tubuhnya. Ibu mungkin mengalami tekanan di bagian diafrakma dan perut. Sekarang bobot bayi sekitar 1700 gram dan panjangnya sekitar 40 cm.
Janin usia 36 Minggu
Bayi sudah hampir sepenuhnya berkembang. Sewaktu-waktu ia dapat turun ke rongga pinggul ibu. Kulit bayi sudah halus sekarang dan tubuhnya montok. Apabila ia bangun, matanya terbuka dan ia dapat membedakan antara terang dan gelap. Sekarang panjang bayi sekitar 50 cm dan bobotnya berkisar antara 2500 hingga 4500 gram.
Janin usia 37 hingga 42 Minggu
Bayi siap lahir. Ibu tidak perlu khawatir jika bayinya tidak lahir tepat pada waktu yang telah diperkirakan. Persentasenya hanya 5% bayi lahir tepat pada tanggal yang diperkirakan. Waktu yang telah lama dinanti hampir tiba dan si bayi akan segera melihat dunia. Sementara itu, rambut lanugo (= rambut badan) bayi telah lenyap meskipun mungkin masih ada yang tersisa di punggung dan dahinya. Sebagian bayi lahir agak terlalu cepat, sebagian lainnya agak sedikit terlambat, tetapi mereka sungguh lahir! Baiklah, selamat berbahagia dan bersukacita atas kelahiran si mungil di tengah-tengah kita!
sumber: http://www.indocell.net
Kamis, 28 Januari 2010
Rabu, 27 Januari 2010
People Come And Go... part 2
(sambungan dari posting sebelumnya)
Setelah itu banyak orang datang dan pergi di kantor kami, dari Titin (yang keluar tanpa kabar), Gumai (fotografer yang bertahan cuma sebentar karena sempat bersitegang dengan Titin), Bayu (keluar karena nggak sreg dengan salah satu pimpinan kami), Esti (keluar menjelang melahirkan karena ingin menjadi ibu rumah tangga), Mas Ernawan (yang sekarang bekerja di grup Indosiar lagi tapi amsih suka jadi fotografer kontributor kita), Anin (cuma bertahan 3 bulan), satya (IT yang nggak tau keluar kenapa), Cipta (IT yang keluar karena ingin konsentrasi jadi musisi handal..yang satu ini yang paling nggak nyambung kayaknya) dan banyak supir keluar (Pak Jamal, Pak Nana, Pak Hasan).
Dan sekarang Mbak Mes yang bisa dibilang orang lama juga keluar. Sebelumnya mbak mes memang sudah sering tidak masuk, katanya sih sakit tapi entah kenapa memang susah dihubungin. Sampai-sampai saya harus mengantar pemimpin saya untuk ngedatangin ke rumahnya biar kita tahu keadaannya sekarang. Akhirnya setelah bertemu dengan HRD mbak mes yang memang sudah habis kontrak berniat untuk tidak melanjutkan kontraknya karena merasa sudah tidak kuat lagi ke kantor. Sedih melihat keadaan mbak mes sekarang, badannya semakin kurus, ternyata penyakit diabetesnya sudah menggrogoti badan sintalnya, wajahnya juga sudah tidak secerah dulu. Sepertinya banyak masalah yang dipendam.
Kini tim lama saya sudah tinggal Bu Yani saja. Ada sih Farid, tapi karena dia suka sibuk dengan side jobnya yang bejibun jadi dia memang jarang ke kantor. Sisanya tim baru yang untungnya bisa dibilang klop dibanding sebelumnya pasca tim lama berguguran.
Rani: Cewek chubby yang satu ini biangnya datang telat, kayaknya hebat banget kalau dia bisa masuk on time. Kalau ada Rani ruangan jadi rame, plus membuat kami susah ngetik. Kondisi kesehatannya (red: kalium yang suka kumat) membuatnya sering nggak masuk. Jadi kasihan, setiap habis banyak jalan pasti besoknya harus nggak masuk karena kakinya sudah digerakkan, mudah-mudahan cepet sembuh ya Ran, kasihan dedenya.
Aki: Desain grafis kami yang super kurus dan masih labil jika sedang punya masalah (yah namanya juga masih muda, hehehe). Tapi meski demikian Aki bisa dijadiin partner bergadang yang oke loh kalau lagi deadline. Jadi inget baru masuk dia sudah kena deadline gila menjelang lebaran yang membuat kita 4 hari nginep di kantor.
Herman: Cowok yang sensitif, kadang lucu kalau ngelihat dia ngambek. Tapi cowok ini prajuritnya kami, secara yang lain cewek jadinya terpaksa dia bekerja dengan cewek-cewek super bawel seperti kita. Yang pasti teman saya yang satu ini hobi banget ganti-ganti foto di facebook, sampe-sampe kita kami katain si raja alay, hehehe....
Mbak yeni: wanita yang satu ini (yang sering saya panggil tante alay) super mandiri, dia sudah terbiasa tinggal sendiri jauh dari orangtuanya semenjak ia sekolah. Mungkin karena ini juga membentuk keperibadiannya yang super cuek (tapi perhatian juga sih kadang2), nggak pedulian (tapi peduli sama kondisi saya juga kadang-kadang, wah saya nggak konsinten nih, hehe...) Yah maksudnya kalau dia dah bilang A terserah orang mau apa yang penting dia A. Hobi sehari-harinya adalah mendengar lagu yang sedang ia suka berulang-ulang sampai dia hapal liriknya (huh sampe nih kuping panas denger lagu itu-itu mulu, qiqiqi)
Dian: Awalnya anak ini cuma magang, cuma karena kantor memang lagi butuh tim kewanitaan semenjak Esti keluar, Farid sibuk kerjaan di luar dan Rani sering nggak masuk kalau penyakit kaliumnya kambuh akhirnya Dian ditarik untuk jadi karyawan disini.
Mas daru: Pria satu ini bisa dibilang gamers sejati, bisa loh dia begadang berhari-hari cuma kepengen ngumpulin chips biar bisa dijual lagi. Hebat!!!! Dia paling senang saya ajak hunting tempat jajan, dasaarrrr.....
Hmmm...4 tahun bekerja disini sudah banyak orang datang dan pergi, saya mulai terbiasa harus sedih melepas kepergian teman lama dan harus beradaptasi lagi dengan teman baru. Kira-kira saya akan keluar kapan ya? Hehehe... Yah paling tidak saya nyaman dengan tim sekarang yang bisa menerima kondisi kehamilan yang membuat tidak leluasa liputan seperti sebelum saya hamil.
luv u guys....(huaaa banyak yang GR nih baca ini)
Setelah itu banyak orang datang dan pergi di kantor kami, dari Titin (yang keluar tanpa kabar), Gumai (fotografer yang bertahan cuma sebentar karena sempat bersitegang dengan Titin), Bayu (keluar karena nggak sreg dengan salah satu pimpinan kami), Esti (keluar menjelang melahirkan karena ingin menjadi ibu rumah tangga), Mas Ernawan (yang sekarang bekerja di grup Indosiar lagi tapi amsih suka jadi fotografer kontributor kita), Anin (cuma bertahan 3 bulan), satya (IT yang nggak tau keluar kenapa), Cipta (IT yang keluar karena ingin konsentrasi jadi musisi handal..yang satu ini yang paling nggak nyambung kayaknya) dan banyak supir keluar (Pak Jamal, Pak Nana, Pak Hasan).
Dan sekarang Mbak Mes yang bisa dibilang orang lama juga keluar. Sebelumnya mbak mes memang sudah sering tidak masuk, katanya sih sakit tapi entah kenapa memang susah dihubungin. Sampai-sampai saya harus mengantar pemimpin saya untuk ngedatangin ke rumahnya biar kita tahu keadaannya sekarang. Akhirnya setelah bertemu dengan HRD mbak mes yang memang sudah habis kontrak berniat untuk tidak melanjutkan kontraknya karena merasa sudah tidak kuat lagi ke kantor. Sedih melihat keadaan mbak mes sekarang, badannya semakin kurus, ternyata penyakit diabetesnya sudah menggrogoti badan sintalnya, wajahnya juga sudah tidak secerah dulu. Sepertinya banyak masalah yang dipendam.
Kini tim lama saya sudah tinggal Bu Yani saja. Ada sih Farid, tapi karena dia suka sibuk dengan side jobnya yang bejibun jadi dia memang jarang ke kantor. Sisanya tim baru yang untungnya bisa dibilang klop dibanding sebelumnya pasca tim lama berguguran.
Rani: Cewek chubby yang satu ini biangnya datang telat, kayaknya hebat banget kalau dia bisa masuk on time. Kalau ada Rani ruangan jadi rame, plus membuat kami susah ngetik. Kondisi kesehatannya (red: kalium yang suka kumat) membuatnya sering nggak masuk. Jadi kasihan, setiap habis banyak jalan pasti besoknya harus nggak masuk karena kakinya sudah digerakkan, mudah-mudahan cepet sembuh ya Ran, kasihan dedenya.
Aki: Desain grafis kami yang super kurus dan masih labil jika sedang punya masalah (yah namanya juga masih muda, hehehe). Tapi meski demikian Aki bisa dijadiin partner bergadang yang oke loh kalau lagi deadline. Jadi inget baru masuk dia sudah kena deadline gila menjelang lebaran yang membuat kita 4 hari nginep di kantor.
Herman: Cowok yang sensitif, kadang lucu kalau ngelihat dia ngambek. Tapi cowok ini prajuritnya kami, secara yang lain cewek jadinya terpaksa dia bekerja dengan cewek-cewek super bawel seperti kita. Yang pasti teman saya yang satu ini hobi banget ganti-ganti foto di facebook, sampe-sampe kita kami katain si raja alay, hehehe....
Mbak yeni: wanita yang satu ini (yang sering saya panggil tante alay) super mandiri, dia sudah terbiasa tinggal sendiri jauh dari orangtuanya semenjak ia sekolah. Mungkin karena ini juga membentuk keperibadiannya yang super cuek (tapi perhatian juga sih kadang2), nggak pedulian (tapi peduli sama kondisi saya juga kadang-kadang, wah saya nggak konsinten nih, hehe...) Yah maksudnya kalau dia dah bilang A terserah orang mau apa yang penting dia A. Hobi sehari-harinya adalah mendengar lagu yang sedang ia suka berulang-ulang sampai dia hapal liriknya (huh sampe nih kuping panas denger lagu itu-itu mulu, qiqiqi)
Dian: Awalnya anak ini cuma magang, cuma karena kantor memang lagi butuh tim kewanitaan semenjak Esti keluar, Farid sibuk kerjaan di luar dan Rani sering nggak masuk kalau penyakit kaliumnya kambuh akhirnya Dian ditarik untuk jadi karyawan disini.
Mas daru: Pria satu ini bisa dibilang gamers sejati, bisa loh dia begadang berhari-hari cuma kepengen ngumpulin chips biar bisa dijual lagi. Hebat!!!! Dia paling senang saya ajak hunting tempat jajan, dasaarrrr.....
Hmmm...4 tahun bekerja disini sudah banyak orang datang dan pergi, saya mulai terbiasa harus sedih melepas kepergian teman lama dan harus beradaptasi lagi dengan teman baru. Kira-kira saya akan keluar kapan ya? Hehehe... Yah paling tidak saya nyaman dengan tim sekarang yang bisa menerima kondisi kehamilan yang membuat tidak leluasa liputan seperti sebelum saya hamil.
luv u guys....(huaaa banyak yang GR nih baca ini)
Selasa, 26 Januari 2010
People Come And Go... part 1
Kemarin salah satu teman saya di kantor (red: mbak mes) kembali keluar.. Sedih, kalau ingat satu persatu-satu teman-teman keluar meninggalkan saya. 4 tahun lalu kami dikumpulkan di kantor ini untuk pembentukan majalah baru di KARTINI Group.
Dulu sebetulnya saya melamar di majalah KARTINI-nya, namun karena waktu itu saya masih harus menyelesaikan urusan kelulusan saya dan wisuda akhirnya saya belum bisa masuk di waktu yang diminta. Karena saya pikir mana mungkin ada perusahaan yang mau menunggu saya sampai saya wisuda, saya sempat hopeless. Ternyata tanpa disangka tiba-tiba saya ditelpon pihak HRD (yang sekarang sudah keluar juga tapi dengan image yang jelek)kalau saya diminta untuk datang lagi ke kantor namun kali ini untuk ikut pembentukan majalah baru yang diberi nama KARTIKA (entah kenapa dari awal saya tidak setuju nama ini, hehehe...)
Waktu itu selain HRD, Pemred (bu Endang yang juga merangkap Wapemred KARTINI), saya dikumpulkan dengan calon-calon partner saya nantinya. Ada Bu Yani, Bu Astuti (alm.), Pak Adri, Mbak Mes, Pak Aid dan Mas Arif. Sebetulnya ada Mas Dudung cuma karena dari awal rapat nggak terlihat keseriusannya (datang telat, kadang datang kadang nggak, ada aja alasannya) akhirnya mas Dudung nggak jadi gabung dengan tim kami.
Setelah beberapa kali rapat pembentukan rubrikasi akhirnya bulan Maret kami mulai masuk kerja secara rutin (sebelumnya rapat seminggu sekali) waktu itu masih di Jl. Iskandar Muda Kebayoran. Baru datang layaknya pindahan ke rumah baru saya dan tim menyeting tempat duduk, Deni (Ob) juga sibuk maku sana-sini bersama Pak Aid. masih ingat waktu itu saya masih suka dipanggil Kak Nina oleh Deni, padahal secara umur dia masih jauh lebih tua dari saya. Meski tim saya waktu itu masih belum ada yang muda, tapi saya tetap semangat.
Baru sebulan kemudian datang reporter baru Moh. Jasri (yang sekarang jadi suamiku, hehe...) dan Farid (Redaktur Kewanitaan). Setelah itu baru deh berasa tim yang utuh, magabut sampai bulan Agustus karena selama itu kita masih nyetok terus sebelum Agustus resmi terbit. Meski banyak perombakan rubrikasi, tapi kami tetap semangat ngejalaninnya. Oya ada juga supir-supir rusuh (Mas Agus alias Racun dan Mas Indar). Meski mereka hanya supir tapi kami sudah biasa jalan barang sampai sekarang ber-4 (saya, Jasri, Mas Agus dan Mas Indar)
Sampai akhir 2006 kami dipindahkan ke kantor di Jl. Garuda, sebetulnya kami diberi pilihan pindah ke kantor Grand Wijaya cuma karena malas dengan birokrasi sana yang ribet akhirnya kami memilih di Garuda saja meski jauh dari peradaban, hehe...
Dan sekarang, tim-tim saya itu berguguran...
Bu Astuti: meninggal dunia April 2007 (sedih banget karena ketika beliau meninggal saya juga sedang berkabung di kampung halaman setelah beberapa hari sebelumnya mengantar Ayah saya ke peristirahatannya yang terakhir). Saya sangat respect dengan alm, karena banyak pelajaran yang saya dapatkan selama kami satu tim. Bahkan kami pernah hampir seminggu liputan bareng di Pontianak menginap di satu kamar, jadi alm. sudah seperti ibu saya sendiri.
Pak Aid: mengundurkan diri akhir 2006, setelah beberapa bulan ditinggal meninggal istrinya, menurut berita Pak Aid lebih memilih untuk berwiraswasta agar bisa dekat dengan anak-anaknya. Apalagi ada satu anaknya yang masih bayi.
Moh. Jasri: Pria yang kini sekarang menjadi pasangan hidup saya ini mengundurkan diri karena ingin konsentrasi dengan pengobatan ayahnya yang saat itu sedang sakit keras (plus ada ketidak sreg-an dengan pihak HRD, ups...).
Pak Adri:Bapak yang satu ini unik banget,kemana-mana selalu naik angkot dan kakinya sepertinya sangat kuat karena bisa jalan kaki dengan jarak yang jauh. Jadi kalau saya mau ke suatu tempat, tinggal tanya dimana dan naik bis apa langsung deh dengan sigap Pak Adri menjelaskan. Menurut info, Pak Adri dulu penulis handal loh. Sayangnya tidak lama berselang resign-nya Jasri, Pak Adri juga tidak mau melanjutkan kontraknya. Selama ini Pak Adri memang merasa dizolimi di kantor ini, ditambah lagi partner ngobrolnya (red: Jasri) sudah tidak ada.
Mas Agus: Tidak lama dari Pak Adri resign, Mas Agus juga keluar karena sudah merasa capek banget kerja disini. apalagi waktu itu harus ngantar red kewanitaan yang katanya tidak seasyik tim feature (hehe..yaiyalah...)
Mas Indar: Bapak beranak 2 ini keluar karena setelah dipindahtugaskan dari supir jadi percetakan frekuensi berkumpul dengan keluarganya sangat sedikit karena harus sering ke Ciawi.
Mas Arif: Redaktur saya yang satu ini orangnya berjiwa muda, karena dia juga saya jadi ikutan wartawan geng bandung, alias wartawan-wartawan yang sering ngeliput di wilayah bandung. Meski sudah keluar saya pun masih berhubungan baik dengannya.
Titik: Desain grafis yang satu ini sebetulnya sangat loyal dan tahan banting meski rumahnya sangat jauh (depok bo'). Tapi sayangnya setelah ibu mertuanya sakit ia harus berhenti karena anaknya tidak ada yang mengurus.
Dulu sebetulnya saya melamar di majalah KARTINI-nya, namun karena waktu itu saya masih harus menyelesaikan urusan kelulusan saya dan wisuda akhirnya saya belum bisa masuk di waktu yang diminta. Karena saya pikir mana mungkin ada perusahaan yang mau menunggu saya sampai saya wisuda, saya sempat hopeless. Ternyata tanpa disangka tiba-tiba saya ditelpon pihak HRD (yang sekarang sudah keluar juga tapi dengan image yang jelek)kalau saya diminta untuk datang lagi ke kantor namun kali ini untuk ikut pembentukan majalah baru yang diberi nama KARTIKA (entah kenapa dari awal saya tidak setuju nama ini, hehehe...)
Waktu itu selain HRD, Pemred (bu Endang yang juga merangkap Wapemred KARTINI), saya dikumpulkan dengan calon-calon partner saya nantinya. Ada Bu Yani, Bu Astuti (alm.), Pak Adri, Mbak Mes, Pak Aid dan Mas Arif. Sebetulnya ada Mas Dudung cuma karena dari awal rapat nggak terlihat keseriusannya (datang telat, kadang datang kadang nggak, ada aja alasannya) akhirnya mas Dudung nggak jadi gabung dengan tim kami.
Setelah beberapa kali rapat pembentukan rubrikasi akhirnya bulan Maret kami mulai masuk kerja secara rutin (sebelumnya rapat seminggu sekali) waktu itu masih di Jl. Iskandar Muda Kebayoran. Baru datang layaknya pindahan ke rumah baru saya dan tim menyeting tempat duduk, Deni (Ob) juga sibuk maku sana-sini bersama Pak Aid. masih ingat waktu itu saya masih suka dipanggil Kak Nina oleh Deni, padahal secara umur dia masih jauh lebih tua dari saya. Meski tim saya waktu itu masih belum ada yang muda, tapi saya tetap semangat.
Baru sebulan kemudian datang reporter baru Moh. Jasri (yang sekarang jadi suamiku, hehe...) dan Farid (Redaktur Kewanitaan). Setelah itu baru deh berasa tim yang utuh, magabut sampai bulan Agustus karena selama itu kita masih nyetok terus sebelum Agustus resmi terbit. Meski banyak perombakan rubrikasi, tapi kami tetap semangat ngejalaninnya. Oya ada juga supir-supir rusuh (Mas Agus alias Racun dan Mas Indar). Meski mereka hanya supir tapi kami sudah biasa jalan barang sampai sekarang ber-4 (saya, Jasri, Mas Agus dan Mas Indar)
Sampai akhir 2006 kami dipindahkan ke kantor di Jl. Garuda, sebetulnya kami diberi pilihan pindah ke kantor Grand Wijaya cuma karena malas dengan birokrasi sana yang ribet akhirnya kami memilih di Garuda saja meski jauh dari peradaban, hehe...
Dan sekarang, tim-tim saya itu berguguran...
Bu Astuti: meninggal dunia April 2007 (sedih banget karena ketika beliau meninggal saya juga sedang berkabung di kampung halaman setelah beberapa hari sebelumnya mengantar Ayah saya ke peristirahatannya yang terakhir). Saya sangat respect dengan alm, karena banyak pelajaran yang saya dapatkan selama kami satu tim. Bahkan kami pernah hampir seminggu liputan bareng di Pontianak menginap di satu kamar, jadi alm. sudah seperti ibu saya sendiri.
Pak Aid: mengundurkan diri akhir 2006, setelah beberapa bulan ditinggal meninggal istrinya, menurut berita Pak Aid lebih memilih untuk berwiraswasta agar bisa dekat dengan anak-anaknya. Apalagi ada satu anaknya yang masih bayi.
Moh. Jasri: Pria yang kini sekarang menjadi pasangan hidup saya ini mengundurkan diri karena ingin konsentrasi dengan pengobatan ayahnya yang saat itu sedang sakit keras (plus ada ketidak sreg-an dengan pihak HRD, ups...).
Pak Adri:Bapak yang satu ini unik banget,kemana-mana selalu naik angkot dan kakinya sepertinya sangat kuat karena bisa jalan kaki dengan jarak yang jauh. Jadi kalau saya mau ke suatu tempat, tinggal tanya dimana dan naik bis apa langsung deh dengan sigap Pak Adri menjelaskan. Menurut info, Pak Adri dulu penulis handal loh. Sayangnya tidak lama berselang resign-nya Jasri, Pak Adri juga tidak mau melanjutkan kontraknya. Selama ini Pak Adri memang merasa dizolimi di kantor ini, ditambah lagi partner ngobrolnya (red: Jasri) sudah tidak ada.
Mas Agus: Tidak lama dari Pak Adri resign, Mas Agus juga keluar karena sudah merasa capek banget kerja disini. apalagi waktu itu harus ngantar red kewanitaan yang katanya tidak seasyik tim feature (hehe..yaiyalah...)
Mas Indar: Bapak beranak 2 ini keluar karena setelah dipindahtugaskan dari supir jadi percetakan frekuensi berkumpul dengan keluarganya sangat sedikit karena harus sering ke Ciawi.
Mas Arif: Redaktur saya yang satu ini orangnya berjiwa muda, karena dia juga saya jadi ikutan wartawan geng bandung, alias wartawan-wartawan yang sering ngeliput di wilayah bandung. Meski sudah keluar saya pun masih berhubungan baik dengannya.
Titik: Desain grafis yang satu ini sebetulnya sangat loyal dan tahan banting meski rumahnya sangat jauh (depok bo'). Tapi sayangnya setelah ibu mertuanya sakit ia harus berhenti karena anaknya tidak ada yang mengurus.
Senin, 25 Januari 2010
Gotong Royong Bin Kerja Bakti
Entah kenapa akhir-akhir ini saya sering merasa begah kalau melihat yang nggak beres di sekitar saya... Terutama di rumah dan di kamar, kadang sehari saya bisa nyapu minimal 3 kali.
Dan puncaknya di weekend kemaren..Entah ini bawaan bayi, tapi saya memang merasa akhir-akhir tidak tahan melihat kamar saya yang rasanya sudah sumpek, apalagi dengan hiasan dinding yang semenjak menikah belum boleh dicopot Ibu saya..
Akhirnya dengan segala rayuan gombal dan penjelasan yang sejelas-jelasnya kalau saya sudah merasa sumpek di kamar akhirnya Sabtu kemaren saya memaksa pasangan saya untuk merubah tata letak kamar dan mecabut semua hiasan dinding. Tapi berhubung Ibu saya tetap memaksa hiasan dinding jangan dilepas semua sebelum bayi kami lahir, akhirnya kami berkompromi hiasan dindingnya dilepas namun tetap memasang hiasan bagian atas dindingnya. Toh setelah dipikir-pikir bagus juga, paling tidak kamar saya ada hiasan tapi yang tidak membuat begah.
Akhirnya sang calon Abi (begitulah rencananya pasangan saya akan dipanggil calon anak kami)dengan semangat 45 bin ngos-ngosan melepas hiasan atas, baru melepas hiasan dinding dilanjutkan memasang kembali hiasan atas dindingnya. Melihat kerja kerasnya saya semakin bangga memiliki suami yang sabar menerima keinginan istrinya yang sedang hamil ini. Lebih dari sejam pekerjaan melelahkan itu ia kerjakan, dengan sigap saya menyediakan es sirup yang dinginnya muantap buat pelepas dahaganya.
Eits jangan disangka saya hanya ongkang-ongkang kaki saja ketika suami bekerja keras. Justru pekerjaan saya sangat melelahkan (versi bumil ya). Jadi kalau si Abi beres rumah (dari nyabut hiasan dinding kamar, geser lemari dan meja rias, geser tempat TV)saya dapat tugas menyortir pakaian-pakaian lemari yang sekiranya minimal setengah tahun ke depan pasti masih belum bisa dipakai lagi (baca: kesempitan akibat tubuh yang membesar kaerna kehamilan dan kelahiran)dan amazingnya dari lemari berpintu 3 tersebut ternyata setelah disortir menghasilkan sepertiga lemari saya kosong (wah berarti sepertiga baju saya sudah harus dimuseumkan, wiiihhhh....)
Ternyata menyortir seluruh baju dan barang juga menghabiskan waktu yang nggak sedikit, paling tidak dari siang saya beres-beres baru menjelang isya selesai semuanya dan kita bisa santai tiduran di kamar kami yang "baru", hehehe... Untung kepikiran melakukan ini, paling tidak lumayan satu pintu lemari pakaian kami bisa dialokasikan untuk baju dan perlengkapan bayi kami nantinya. Lumayan bisa pending pengeluaran untuk beli lemari anak (meski pasti suatu saat akan beli juga sih..Tapi kan lumayan duitnya bisa buat yang lain dulu...yippieeee)
Malamnya saya dan pasangan saya merasa agak aneh tidur di kamar kami dengan settingan baru ini. Kalau kata si Abi, "Jadi kayak tidur di kamar orang". ya gimana nggak dulu di depan tempat tidur saya ada meja rias, posisi tv-dvd disamping tempat tidur, sekarang kamar jadi lebih luas, plus di depan tempat tidur ada tv-dvd yang membuat kami nggak harus merubah posisi tidur kalau mau nonton..Pokoknya saya suka banget dengan kamar "baru" kami ini...
Sebetulnya masih ada PR buat kami, yaitu menyiapkan kamar for our little baby. Tapi banyak yang bilang utnuk yang satu ini sebaiknya setelah 7bulan, jadi 2 bulan lagi kami baru bisa beres2 kamar itu yang rencananya disamping kamar kami. jadi ingat kamar itu dulu kamar saya, sedangkan kamar kami sekarang adalah kamar orangtua saya. diantara kamar kami ada satu pintu penghubung dimana hanya bisa dikunci dari kamar orangtua saya (alias kamar kami sekarang). Katanya sih karena dulu kalau saya lagi ngambek atau sedih saya biasa mengunci kamar dan tertidur sampai malam hari. Jadi karena takut kenapa-napa jadinya dibuat pintu itu dan sengaja nggak dibuat kunci dari kamar saya dulu.
Dan lucunya sekarang kami justru mempersiapkan kamar saya dulu utnuk menjadi kamar anak kami nantinya...Hmm posisi saya sudah terbalik sekarang. Tidak sabar jadinya menanti 2 bulan lagi, sekarang sih dah kebayang gimana enaknya lay outnya. Dah kebayang dimana posisi spring bed saya dulu yang bisa digunakan siapa aja yang mau tidur dengan anak kami nanti, dimana letak kasur ayunan buat anak kami nanti...Huuuu sabar-sabar sebentar lagiiii.....(hihihi)
Dan puncaknya di weekend kemaren..Entah ini bawaan bayi, tapi saya memang merasa akhir-akhir tidak tahan melihat kamar saya yang rasanya sudah sumpek, apalagi dengan hiasan dinding yang semenjak menikah belum boleh dicopot Ibu saya..
Akhirnya dengan segala rayuan gombal dan penjelasan yang sejelas-jelasnya kalau saya sudah merasa sumpek di kamar akhirnya Sabtu kemaren saya memaksa pasangan saya untuk merubah tata letak kamar dan mecabut semua hiasan dinding. Tapi berhubung Ibu saya tetap memaksa hiasan dinding jangan dilepas semua sebelum bayi kami lahir, akhirnya kami berkompromi hiasan dindingnya dilepas namun tetap memasang hiasan bagian atas dindingnya. Toh setelah dipikir-pikir bagus juga, paling tidak kamar saya ada hiasan tapi yang tidak membuat begah.
Akhirnya sang calon Abi (begitulah rencananya pasangan saya akan dipanggil calon anak kami)dengan semangat 45 bin ngos-ngosan melepas hiasan atas, baru melepas hiasan dinding dilanjutkan memasang kembali hiasan atas dindingnya. Melihat kerja kerasnya saya semakin bangga memiliki suami yang sabar menerima keinginan istrinya yang sedang hamil ini. Lebih dari sejam pekerjaan melelahkan itu ia kerjakan, dengan sigap saya menyediakan es sirup yang dinginnya muantap buat pelepas dahaganya.
Eits jangan disangka saya hanya ongkang-ongkang kaki saja ketika suami bekerja keras. Justru pekerjaan saya sangat melelahkan (versi bumil ya). Jadi kalau si Abi beres rumah (dari nyabut hiasan dinding kamar, geser lemari dan meja rias, geser tempat TV)saya dapat tugas menyortir pakaian-pakaian lemari yang sekiranya minimal setengah tahun ke depan pasti masih belum bisa dipakai lagi (baca: kesempitan akibat tubuh yang membesar kaerna kehamilan dan kelahiran)dan amazingnya dari lemari berpintu 3 tersebut ternyata setelah disortir menghasilkan sepertiga lemari saya kosong (wah berarti sepertiga baju saya sudah harus dimuseumkan, wiiihhhh....)
Ternyata menyortir seluruh baju dan barang juga menghabiskan waktu yang nggak sedikit, paling tidak dari siang saya beres-beres baru menjelang isya selesai semuanya dan kita bisa santai tiduran di kamar kami yang "baru", hehehe... Untung kepikiran melakukan ini, paling tidak lumayan satu pintu lemari pakaian kami bisa dialokasikan untuk baju dan perlengkapan bayi kami nantinya. Lumayan bisa pending pengeluaran untuk beli lemari anak (meski pasti suatu saat akan beli juga sih..Tapi kan lumayan duitnya bisa buat yang lain dulu...yippieeee)
Malamnya saya dan pasangan saya merasa agak aneh tidur di kamar kami dengan settingan baru ini. Kalau kata si Abi, "Jadi kayak tidur di kamar orang". ya gimana nggak dulu di depan tempat tidur saya ada meja rias, posisi tv-dvd disamping tempat tidur, sekarang kamar jadi lebih luas, plus di depan tempat tidur ada tv-dvd yang membuat kami nggak harus merubah posisi tidur kalau mau nonton..Pokoknya saya suka banget dengan kamar "baru" kami ini...
Sebetulnya masih ada PR buat kami, yaitu menyiapkan kamar for our little baby. Tapi banyak yang bilang utnuk yang satu ini sebaiknya setelah 7bulan, jadi 2 bulan lagi kami baru bisa beres2 kamar itu yang rencananya disamping kamar kami. jadi ingat kamar itu dulu kamar saya, sedangkan kamar kami sekarang adalah kamar orangtua saya. diantara kamar kami ada satu pintu penghubung dimana hanya bisa dikunci dari kamar orangtua saya (alias kamar kami sekarang). Katanya sih karena dulu kalau saya lagi ngambek atau sedih saya biasa mengunci kamar dan tertidur sampai malam hari. Jadi karena takut kenapa-napa jadinya dibuat pintu itu dan sengaja nggak dibuat kunci dari kamar saya dulu.
Dan lucunya sekarang kami justru mempersiapkan kamar saya dulu utnuk menjadi kamar anak kami nantinya...Hmm posisi saya sudah terbalik sekarang. Tidak sabar jadinya menanti 2 bulan lagi, sekarang sih dah kebayang gimana enaknya lay outnya. Dah kebayang dimana posisi spring bed saya dulu yang bisa digunakan siapa aja yang mau tidur dengan anak kami nanti, dimana letak kasur ayunan buat anak kami nanti...Huuuu sabar-sabar sebentar lagiiii.....(hihihi)
Rabu, 20 Januari 2010
i live without internet (hiks)
huuuuaaaaa.....
benar kata orang internet itu candu... Itu juga yang saya rasakan akhir-akhir ini. Sialnya ketika dihadapkan internet sedang nggak bisa dijalankan, hidup mulai ada yang hilang..
Jadi, internet kantor lagi nggak bisa digunain, katanya orang IT sih modemnya rusak harus diganti cuma karena kantor saya agak ribet dalam proses pengajuan penggantian jadinya harus bersabar sampai modem itu diganti dnegan yang baru. Sedangkan hp SMART yang biasa saya gunakan belum sempat saya isi pulsanya (alias mau ngirit dulu sampe akhir bulan, jadi awal bulan aja ngisi pulsanya, qiqiqi...)
Kalau dulu ada hp matrix yang biasa online 24 jam, tapi sialnya hp saya itu rusak nggak bisa nyala... Yasudah terpaksa deh menyerah dengan keadaan hidup tanpa internet untuk sementara waktu....
Thanks God sampai akhir minggu ini liputan saya sedang full... Paling tidak saya bisa bebas dari rasa kesal di kantor nggak bisa nge-net... So, selamat tinggal online untuk sementara waktu.. mudah-mudahan minggu depan hidup saya kembali normal...(qiqiqi, doa macam apa ini?)
*writed in the morning at Palomo's apartment (alias numpang nge-net)
benar kata orang internet itu candu... Itu juga yang saya rasakan akhir-akhir ini. Sialnya ketika dihadapkan internet sedang nggak bisa dijalankan, hidup mulai ada yang hilang..
Jadi, internet kantor lagi nggak bisa digunain, katanya orang IT sih modemnya rusak harus diganti cuma karena kantor saya agak ribet dalam proses pengajuan penggantian jadinya harus bersabar sampai modem itu diganti dnegan yang baru. Sedangkan hp SMART yang biasa saya gunakan belum sempat saya isi pulsanya (alias mau ngirit dulu sampe akhir bulan, jadi awal bulan aja ngisi pulsanya, qiqiqi...)
Kalau dulu ada hp matrix yang biasa online 24 jam, tapi sialnya hp saya itu rusak nggak bisa nyala... Yasudah terpaksa deh menyerah dengan keadaan hidup tanpa internet untuk sementara waktu....
Thanks God sampai akhir minggu ini liputan saya sedang full... Paling tidak saya bisa bebas dari rasa kesal di kantor nggak bisa nge-net... So, selamat tinggal online untuk sementara waktu.. mudah-mudahan minggu depan hidup saya kembali normal...(qiqiqi, doa macam apa ini?)
*writed in the morning at Palomo's apartment (alias numpang nge-net)
Minggu, 17 Januari 2010
Dikontrak lagiiii?????
Seminggu yang lalu saya dipanggil HRD..
Yup setelah setengah tahun digantung status saya di majalah ini akhirnya kantor minta kejelasan apakah ingin melanjutkan kontrak atau tidak...
Dilema...
Saat menuju ruangan HRD sempat bingung langkah apa yang harus saya ambil...Dan benar saja, ketika melihat draft kontrak yang harus ditandatangani, saya dikontrak lagi...pastinya pertanyaan kalian, "Apa, dikontrak lagi?????" kalau kalian bingung, apalagi saya yang menjalani....hmmm tapi beginilah yang terjadi jika kalian bekerja di majalah dimana saya bekerja saat ini..padahal Maret ini 4 tahun sudah saya bekerja disini, dan untuk kesekian kalinya saya harus menerima bersedia dikontrak lagi atau tidak...
Baiklah, saya pun mengambil keputusan untuk MENERIMA..!!!!
Meski berat, tapi apa boleh buat itu satu2nya jalan yang harus saya ambil...secara kondisi saya sekarang sedang hamil 4,5 bulan... ingin keluar dan melamar di perusahaan lain pasti tidak ada perusahaan yang ingin merekruit saya..sebetulnya masalah dikontrak lagi bukan masalah yang paling utama tapi kenyataan ternyata selama 3 bulan nanti saya cuti hamil saya tidak akan mendapat gaji sepersen pun...hmmm sangat mengecewakan, 4 tahun ini saya tidak dianggap, bahkan perusahaan yang notabene mengangkat isu-isu wanita justru tidak menghargai hak wanita yang melahirkan...
Tapi karena ingat ada bayi yang tidak bersalah di dalam perut ini jika saya marah2, maka saya menerima kenyataan pahit ini.. "saya terima dikontrak kembali dengan tanpa gaji ketika cuti melahirkan nanti" -bodohnya saya!-
Yah paling tidak kontrak saya sudah berjalan setengah tahun, dan akan habis masa kontraknya 12 September nanti (which is saya sudah melahirkan)... entah apakah saya akan melanjutkankontrak ini lagi atau ini justru kontrak terakhir saya di majalah ini...???
Sepertinya harus mulai memikirkan jalan apa yang saya ambil setelah bulan september ini...enaknya bisnis apa ya???hayi nina berpikiiiiiiirrrrrr.....(any idea guys..)
Yup setelah setengah tahun digantung status saya di majalah ini akhirnya kantor minta kejelasan apakah ingin melanjutkan kontrak atau tidak...
Dilema...
Saat menuju ruangan HRD sempat bingung langkah apa yang harus saya ambil...Dan benar saja, ketika melihat draft kontrak yang harus ditandatangani, saya dikontrak lagi...pastinya pertanyaan kalian, "Apa, dikontrak lagi?????" kalau kalian bingung, apalagi saya yang menjalani....hmmm tapi beginilah yang terjadi jika kalian bekerja di majalah dimana saya bekerja saat ini..padahal Maret ini 4 tahun sudah saya bekerja disini, dan untuk kesekian kalinya saya harus menerima bersedia dikontrak lagi atau tidak...
Baiklah, saya pun mengambil keputusan untuk MENERIMA..!!!!
Meski berat, tapi apa boleh buat itu satu2nya jalan yang harus saya ambil...secara kondisi saya sekarang sedang hamil 4,5 bulan... ingin keluar dan melamar di perusahaan lain pasti tidak ada perusahaan yang ingin merekruit saya..sebetulnya masalah dikontrak lagi bukan masalah yang paling utama tapi kenyataan ternyata selama 3 bulan nanti saya cuti hamil saya tidak akan mendapat gaji sepersen pun...hmmm sangat mengecewakan, 4 tahun ini saya tidak dianggap, bahkan perusahaan yang notabene mengangkat isu-isu wanita justru tidak menghargai hak wanita yang melahirkan...
Tapi karena ingat ada bayi yang tidak bersalah di dalam perut ini jika saya marah2, maka saya menerima kenyataan pahit ini.. "saya terima dikontrak kembali dengan tanpa gaji ketika cuti melahirkan nanti" -bodohnya saya!-
Yah paling tidak kontrak saya sudah berjalan setengah tahun, dan akan habis masa kontraknya 12 September nanti (which is saya sudah melahirkan)... entah apakah saya akan melanjutkankontrak ini lagi atau ini justru kontrak terakhir saya di majalah ini...???
Sepertinya harus mulai memikirkan jalan apa yang saya ambil setelah bulan september ini...enaknya bisnis apa ya???hayi nina berpikiiiiiiirrrrrr.....(any idea guys..)
2 years ago...
(Arsip note facebook 12 April 2009)
Dua tahun sudah ia pergi meninggalkan kami selamanya…
Meninggalkan cerita bahagia yang akan selalu kami kenang….
Kenangan indah yang tak akan mungkin bisa kami lupakan…
Senyuman, tawa-canda yang selalu menghiasi rumah kita bersama…
Miss u much pa…
Sedih kau tak bisa hadir di hari bersejarahku nanti..
Tapi ku yakin restumu selalu menyertai kami..
Mengiringi langkah kami selalu…
Thanks..
(in memories New Year of 2009)
Thanks alot guys..
Jasri sangat terharu melihat perhatian dari teman2, karena sebetulnya kalian belum mengenal Ibu..Ini sangat berarti untuk kami yang ditinggalkan, khususnya Jasri...
Kondisi ini memang sangat membuat kita "jatuh", karena untuk sekian kalinya kami harus menerima kenyataan kehilangan orangtua… Ternyata beliau harus "pergi" sebelum hari besar kami dijalankan...
Apalagi disaat banyak orang di seluruh dunia sedang berbahagia mempersiapkan malam tahun baru, kami justru dalam perjalanan mengantar beliau ke "rumah" terakhirnya disamping suaminya tercinta yang sudah duluan "pergi" setahun sebelumnya...
Semua usaha pengobatan sudah kami lakukan semaksimal mungkin, dan memang ada "Yang Maha Kuasa" di dunia ini...
Yup kini orangtua kami tinggal satu, yaitu mamaku... Tapi mereka yang sudah “pergi” (Papa, Bapak, Ibu) tetap ada di hati kami… Always...
Loving your parents as you can do guys..Karena rasanya seperti dunia mau runtuh ketika kita "ditinggalkan"...
But it’s life….
You never know what happens tomorrow…
Happy New Year… Hope this year and the next we get more happiness and no more crying… *_*
Thanks alot guys..
Jasri sangat terharu melihat perhatian dari teman2, karena sebetulnya kalian belum mengenal Ibu..Ini sangat berarti untuk kami yang ditinggalkan, khususnya Jasri...
Kondisi ini memang sangat membuat kita "jatuh", karena untuk sekian kalinya kami harus menerima kenyataan kehilangan orangtua… Ternyata beliau harus "pergi" sebelum hari besar kami dijalankan...
Apalagi disaat banyak orang di seluruh dunia sedang berbahagia mempersiapkan malam tahun baru, kami justru dalam perjalanan mengantar beliau ke "rumah" terakhirnya disamping suaminya tercinta yang sudah duluan "pergi" setahun sebelumnya...
Semua usaha pengobatan sudah kami lakukan semaksimal mungkin, dan memang ada "Yang Maha Kuasa" di dunia ini...
Yup kini orangtua kami tinggal satu, yaitu mamaku... Tapi mereka yang sudah “pergi” (Papa, Bapak, Ibu) tetap ada di hati kami… Always...
Loving your parents as you can do guys..Karena rasanya seperti dunia mau runtuh ketika kita "ditinggalkan"...
But it’s life….
You never know what happens tomorrow…
Happy New Year… Hope this year and the next we get more happiness and no more crying… *_*
Dia pergi
Hari ini dia pergi
Tuhan kembali mengambil orang yang kami sayangi
Dada ini kembali sesak
Mata ini kembali menangis
Perjuangan kami harus berhenti disini
Aku tahu Tuhan yang lebih tahu mana yang terbaik
Tapi aku tak bisa berhenti menangis
Dada ini sangat sesak
Tuhan
Jaga ibu kami..
Sampaikan salam sayang kami untuknya..
*Jakarta, 30 Desember 2008, pukul 15.56*
Tuhan kembali mengambil orang yang kami sayangi
Dada ini kembali sesak
Mata ini kembali menangis
Perjuangan kami harus berhenti disini
Aku tahu Tuhan yang lebih tahu mana yang terbaik
Tapi aku tak bisa berhenti menangis
Dada ini sangat sesak
Tuhan
Jaga ibu kami..
Sampaikan salam sayang kami untuknya..
*Jakarta, 30 Desember 2008, pukul 15.56*
Belajar Dari Seorang Ibu Yang Sakit
(lagi-lagi dari multiply kacrut itu)
-Jan '09-
Waktu menjaga alm. ibu kekasih saya (sebelum beliau meninggal), saya sempat berbincang-bincang dengan seorang ibu muda yang dirawat tepat disamping Ibu. Berhubung malam itu tidak ada yang menjaganya, saya sempatkan untuk berbincang-bincang dengan sejenak. Kebetulan keluarga kekasih saya sedang berbicara dengan Ibu, jadi saya memberi kesempatan mereka yang baru saja datang menjenguk.
Awal bincang-bincang kami terasa basa-basi saja, dari bertanya sakit apa, kok sendiri saja, sejak kapan dirawat, kira-kira pulang kapan? ternyata pembahasan kami tidak sampai itu saja, bincang-bincang dengannya mulai mengasikkan. mungkin karena seperti si Ibu orang Betawi yang memang terkenal dengan ceplas-ceplosnya.
Perbincangan kami sedikit terhenti ketika ada suster yang memberikan obat untuk ia minum. Si Ibu menerima dengan muka musam, "Huh, minum obat terus, sampe bolod rasanya gara-gara kebanyakan minum obat," ujarnya,
Melihat mukanya saya langsung ingin menyemangatinya, "Kalau nggak mau minum obat ya harus sembuh dong Bu, makanya semangat biar cepat sembuh," paparku. Saya bantu mengambilkan air minum dan merobek bungkus obatnya, setelah dihitung jumlahnya ada 8 obat. Ya, penyakit asma kronis dan penyempitan pembuluh darah membuatnya dirawat di RS ini.
Si Ibu sempat berkata sendiri, yang tentunya saya bisa mendengar ucapannya, "Nggak tau mana yang obat asma, mana yang obat jantung."
Kebetulan saya sudah sangat terbiasa dengan obat-obatan untuk penyakit jantung yang pernah diidap alm Papa saya dan juga saya dulu pengidap asma juga. Jadi saya bisa langsung menunjukkan mana yang obat jantung dan yang mana obat asma. Agak kaget waktu si Ibu meminum semua obat sekaligus, karena setahu saya ada satu obat jantung yang sangat familiar yang biasanya Ayah saya minum dengan cara ditaruh di bawah lidahnya. padahal saya sempat bilang, "obat yang ini ditaruh di bawah lidah kan Bu?"
Tapi akhirnya saya hanya bisa terdiam, karena semua obat tetap saja diminum Ibu dengan cara ditelan seluruhnya.
Setelah perbincangan kembali berlanjut, kali ini si Ibu share tentang kondisi keluarganya. Menurutnya ia bisa sakit seperti ini karena makan hati punya suami yang lebih muda 7 tahun darinya, aneh menurutku.
"Saya ini makan hati mulu mbak punya laki muda banget, berasa punya satu bayi lagi yang harus diemong.Udah saya penyakitan gini, yang ada dia masih gagah sayanya usah kayak nenek-nenek," curhat si Ibu yang kalau dilihat wajahnya sudah hampir 40 tahun.
"Saya pernah bilang ke anak saya yang paling bontot, 'De, kalau mama nanti mati jangan sedih ya, nanti kan ada mama tiri yang baik. Ade bakal diajak jalan-jalan.' Eh kemaren waktu saya lagi nyesek, tiba-tiba anak saya ngomong, 'Mama kapan matinya? Kan Ade mau jalan-jalan sama mama tiri.' Sedih banget mbak, habis itu saya langsung parah dibawa ke RS deh."
Hehehe kalau inget cerita ini jadi mau ketawa...
-Jan '09-
Waktu menjaga alm. ibu kekasih saya (sebelum beliau meninggal), saya sempat berbincang-bincang dengan seorang ibu muda yang dirawat tepat disamping Ibu. Berhubung malam itu tidak ada yang menjaganya, saya sempatkan untuk berbincang-bincang dengan sejenak. Kebetulan keluarga kekasih saya sedang berbicara dengan Ibu, jadi saya memberi kesempatan mereka yang baru saja datang menjenguk.
Awal bincang-bincang kami terasa basa-basi saja, dari bertanya sakit apa, kok sendiri saja, sejak kapan dirawat, kira-kira pulang kapan? ternyata pembahasan kami tidak sampai itu saja, bincang-bincang dengannya mulai mengasikkan. mungkin karena seperti si Ibu orang Betawi yang memang terkenal dengan ceplas-ceplosnya.
Perbincangan kami sedikit terhenti ketika ada suster yang memberikan obat untuk ia minum. Si Ibu menerima dengan muka musam, "Huh, minum obat terus, sampe bolod rasanya gara-gara kebanyakan minum obat," ujarnya,
Melihat mukanya saya langsung ingin menyemangatinya, "Kalau nggak mau minum obat ya harus sembuh dong Bu, makanya semangat biar cepat sembuh," paparku. Saya bantu mengambilkan air minum dan merobek bungkus obatnya, setelah dihitung jumlahnya ada 8 obat. Ya, penyakit asma kronis dan penyempitan pembuluh darah membuatnya dirawat di RS ini.
Si Ibu sempat berkata sendiri, yang tentunya saya bisa mendengar ucapannya, "Nggak tau mana yang obat asma, mana yang obat jantung."
Kebetulan saya sudah sangat terbiasa dengan obat-obatan untuk penyakit jantung yang pernah diidap alm Papa saya dan juga saya dulu pengidap asma juga. Jadi saya bisa langsung menunjukkan mana yang obat jantung dan yang mana obat asma. Agak kaget waktu si Ibu meminum semua obat sekaligus, karena setahu saya ada satu obat jantung yang sangat familiar yang biasanya Ayah saya minum dengan cara ditaruh di bawah lidahnya. padahal saya sempat bilang, "obat yang ini ditaruh di bawah lidah kan Bu?"
Tapi akhirnya saya hanya bisa terdiam, karena semua obat tetap saja diminum Ibu dengan cara ditelan seluruhnya.
Setelah perbincangan kembali berlanjut, kali ini si Ibu share tentang kondisi keluarganya. Menurutnya ia bisa sakit seperti ini karena makan hati punya suami yang lebih muda 7 tahun darinya, aneh menurutku.
"Saya ini makan hati mulu mbak punya laki muda banget, berasa punya satu bayi lagi yang harus diemong.Udah saya penyakitan gini, yang ada dia masih gagah sayanya usah kayak nenek-nenek," curhat si Ibu yang kalau dilihat wajahnya sudah hampir 40 tahun.
"Saya pernah bilang ke anak saya yang paling bontot, 'De, kalau mama nanti mati jangan sedih ya, nanti kan ada mama tiri yang baik. Ade bakal diajak jalan-jalan.' Eh kemaren waktu saya lagi nyesek, tiba-tiba anak saya ngomong, 'Mama kapan matinya? Kan Ade mau jalan-jalan sama mama tiri.' Sedih banget mbak, habis itu saya langsung parah dibawa ke RS deh."
Hehehe kalau inget cerita ini jadi mau ketawa...
We love them so much
(from my multiply yang menyebalkan nggak bisa dibuka)
-akhir Dec '08-
RIP..Ibu (now)
Pagi ini menjelang saya berangkat ke kantor tiba-tiba kekasih saya menelpon, memberitahukan kalau ia tidak bisa jemput dan rencana kami hari ini gagal karena ibunya masuk rumah sakit. Entah kenapa beberapa tahun ini rasanya kami sudah terbiasa dengan berita seperti ini, tapi tetap saja rasa panik menyelinap di hati kami. Ya, 2 tahun terakahir ini kami memang sudah biasa membawa orangtua kami ke rumah sakit.
Dari Papa saya yang memang mulai intens ke rumah sakit sejak saya duduk di bangku sekolah tingkat atas (SMA). Penyempitan pembuluh darah di jantungnya mengharuskannya meminum obat dari dokter secara rutin. Dari awal sakit jantung sampai komplikasi ke magh, kista pada ginjal dan sampai akhinya Papa "diambil" tanggal 12 April 2007... Anehnya kita baru tahu di hari-hari terakhir kalau Papa saya terkena gagal ginjal, hmm sangat menyesal itupun kami ketahui karena obat yang diberikan dokter justru membuat Beliau tambah parah. kami sekeluarga langsung memaksa dokter untuk chek up keseluruhan dan 1 hari menjelang "pergi" kita baru tahu kalau Papa harus segera cuci darah dan transfusi darah sebelumnya. sayangnya Papa kami tidak mau mendapat transfusi darah jika bukan dari anak-anaknya (yaitu kami), keesokan paginya kami langsung ke PMI untuk transfusi darah. Dan sayangnya lagi untuk bisa ditransfusi darah butuh waktu sehari untuk disterilkan dulu.. huff ribet sekali. Dan mungkin sudah takdir, Papa "pergi" di pangkuan Mama tanpa kesakitan yang biasa kami lihat di televisi. sayangnya saya tidak berada disana karena masih di kantor. Padahal malam itu harusnya jatah saya yang menjaga Papa, tapi apa mau dikata, Tuhan berkehendak yang lain. esoknya kami mengantar Papa ke peristirahatan terakhir di kampung halamannya. Saya, keluarga dan kekasih ikut berangkat, hanya ini yang bisa kami lakukan untuk membayar hutang kami yaitu menikah selagi beliau masih ada.
Beberapa bulan selanjutnya, belum hilang sedih ini tiba-tiba ayah kekasih saya jatuh sakit. Ini benar-benar mengagetkan, karena sebetulnya yang sedang dalam pengobatan adalah ibu dari kekasih saya. tapi tiba-tiba Bapak kekasih saya merasa sakit di antara pipi dan telinga. Banyak dokter kami datangi yang memberi jawaban berbeda-beda dari sakit telinga, tumbuh daging di telinga, sakit gigi, dll. Sampai di bulan Agustus kami baru tahu kalau ternyata Bapak kami terkena tumor dan sudah mengenai tulang pipinya. Oh My God penyakit apa lagi ini, kami berusaha semaksimal mengobati sampai akhirnya awal bulan Ramadhan Bapak dirawat. Hanya sempat beberapa hari dirawat karena dokter sudah menyerah.. Kamipun membawa pulang, hanya sehari dirumah, esoknya Bapak sudah "pergi". Alhamdulillah malam sebelumnya seluruh keluarga berkumpul, dan besoknya (18 September 2007) keluarga kami berkumpul lagi tapi kali ini untuk mengantar Bapak "beristirahat" untuk selamanya. Huff another funeral...
Tidak beberapa lama Mama saya sakit di pergelangan tangan. Entah apa sakitnya, yang pasti sampai membuatnya tidak bisa menggerakkan tangan sebelah kanannya. Penyakit itu karena sejak Papa sakit mama selalu tidur menghadap ke kanan ke arah Papa saya tidur. Beberpa dokter menyebutnya frozen shoulder, urat terjepit, dll. Sampai sekarang kami masih berusaha mengobati Mama, meski sudah tidak terlalu sering sakit tapi terkadang kalau Mama lupa kelamaan tidur di sisi itu rasa sakit itu kembali datang.
Dan kini, Ibu dari kekasih saya masuk rumah sakit. Fiuhh... kami harus kembali berkutat dengan rumah sakit. Yup, seperti yang sudah saya jelaskan Ibu memang sudah sakit sebelum Bapak sakit. Whic is ini sudah sekitar 2 tahunan. Tekanan darahnya yang sangat tinggi (normalnya saja 170, apalagi jika sedang tinggi?) membuatnya sering nyesak, belum lagi magh. Oh my God... Menurut dokter seandainya Ibu tidak kurus pasti sudah stroke sejak dari dulu. Tapi meski tidak stroke penyakit darah tingginya menyerang pernafasan. Sering kali Ibu nyesak, hampir tiap malam Ibu tidak bisa tidur. Ibu sering mengeluh badannya sakit semua. Dan pagi ini kami terpaksa membawa orang yang kami sayangi ke RS, again?
Apa yang harus kami lakukan ya Allah untuk mengobati orang-orang yang kami sayangi?
Kami masih butuh mereka ya Allah... Bantu kami ya Alllah untuk menghadapi cobaan ini dengan lapang dada. Kami bersyukur Kau masih sayang kami, kami yakin semua cobaan yang Kau berikan ada jalan keluarnya. Berikan umur panjang bagi Mama dan Ibu kami Ya Allah, Papa dan Bapak kami sudah dalam "pelukanmu". Berikan kami kesempatan membahagiakan kedua ibu kandung kami... Amien...
-akhir Dec '08-
RIP..Ibu (now)
Pagi ini menjelang saya berangkat ke kantor tiba-tiba kekasih saya menelpon, memberitahukan kalau ia tidak bisa jemput dan rencana kami hari ini gagal karena ibunya masuk rumah sakit. Entah kenapa beberapa tahun ini rasanya kami sudah terbiasa dengan berita seperti ini, tapi tetap saja rasa panik menyelinap di hati kami. Ya, 2 tahun terakahir ini kami memang sudah biasa membawa orangtua kami ke rumah sakit.
Dari Papa saya yang memang mulai intens ke rumah sakit sejak saya duduk di bangku sekolah tingkat atas (SMA). Penyempitan pembuluh darah di jantungnya mengharuskannya meminum obat dari dokter secara rutin. Dari awal sakit jantung sampai komplikasi ke magh, kista pada ginjal dan sampai akhinya Papa "diambil" tanggal 12 April 2007... Anehnya kita baru tahu di hari-hari terakhir kalau Papa saya terkena gagal ginjal, hmm sangat menyesal itupun kami ketahui karena obat yang diberikan dokter justru membuat Beliau tambah parah. kami sekeluarga langsung memaksa dokter untuk chek up keseluruhan dan 1 hari menjelang "pergi" kita baru tahu kalau Papa harus segera cuci darah dan transfusi darah sebelumnya. sayangnya Papa kami tidak mau mendapat transfusi darah jika bukan dari anak-anaknya (yaitu kami), keesokan paginya kami langsung ke PMI untuk transfusi darah. Dan sayangnya lagi untuk bisa ditransfusi darah butuh waktu sehari untuk disterilkan dulu.. huff ribet sekali. Dan mungkin sudah takdir, Papa "pergi" di pangkuan Mama tanpa kesakitan yang biasa kami lihat di televisi. sayangnya saya tidak berada disana karena masih di kantor. Padahal malam itu harusnya jatah saya yang menjaga Papa, tapi apa mau dikata, Tuhan berkehendak yang lain. esoknya kami mengantar Papa ke peristirahatan terakhir di kampung halamannya. Saya, keluarga dan kekasih ikut berangkat, hanya ini yang bisa kami lakukan untuk membayar hutang kami yaitu menikah selagi beliau masih ada.
Beberapa bulan selanjutnya, belum hilang sedih ini tiba-tiba ayah kekasih saya jatuh sakit. Ini benar-benar mengagetkan, karena sebetulnya yang sedang dalam pengobatan adalah ibu dari kekasih saya. tapi tiba-tiba Bapak kekasih saya merasa sakit di antara pipi dan telinga. Banyak dokter kami datangi yang memberi jawaban berbeda-beda dari sakit telinga, tumbuh daging di telinga, sakit gigi, dll. Sampai di bulan Agustus kami baru tahu kalau ternyata Bapak kami terkena tumor dan sudah mengenai tulang pipinya. Oh My God penyakit apa lagi ini, kami berusaha semaksimal mengobati sampai akhirnya awal bulan Ramadhan Bapak dirawat. Hanya sempat beberapa hari dirawat karena dokter sudah menyerah.. Kamipun membawa pulang, hanya sehari dirumah, esoknya Bapak sudah "pergi". Alhamdulillah malam sebelumnya seluruh keluarga berkumpul, dan besoknya (18 September 2007) keluarga kami berkumpul lagi tapi kali ini untuk mengantar Bapak "beristirahat" untuk selamanya. Huff another funeral...
Tidak beberapa lama Mama saya sakit di pergelangan tangan. Entah apa sakitnya, yang pasti sampai membuatnya tidak bisa menggerakkan tangan sebelah kanannya. Penyakit itu karena sejak Papa sakit mama selalu tidur menghadap ke kanan ke arah Papa saya tidur. Beberpa dokter menyebutnya frozen shoulder, urat terjepit, dll. Sampai sekarang kami masih berusaha mengobati Mama, meski sudah tidak terlalu sering sakit tapi terkadang kalau Mama lupa kelamaan tidur di sisi itu rasa sakit itu kembali datang.
Dan kini, Ibu dari kekasih saya masuk rumah sakit. Fiuhh... kami harus kembali berkutat dengan rumah sakit. Yup, seperti yang sudah saya jelaskan Ibu memang sudah sakit sebelum Bapak sakit. Whic is ini sudah sekitar 2 tahunan. Tekanan darahnya yang sangat tinggi (normalnya saja 170, apalagi jika sedang tinggi?) membuatnya sering nyesak, belum lagi magh. Oh my God... Menurut dokter seandainya Ibu tidak kurus pasti sudah stroke sejak dari dulu. Tapi meski tidak stroke penyakit darah tingginya menyerang pernafasan. Sering kali Ibu nyesak, hampir tiap malam Ibu tidak bisa tidur. Ibu sering mengeluh badannya sakit semua. Dan pagi ini kami terpaksa membawa orang yang kami sayangi ke RS, again?
Apa yang harus kami lakukan ya Allah untuk mengobati orang-orang yang kami sayangi?
Kami masih butuh mereka ya Allah... Bantu kami ya Alllah untuk menghadapi cobaan ini dengan lapang dada. Kami bersyukur Kau masih sayang kami, kami yakin semua cobaan yang Kau berikan ada jalan keluarnya. Berikan umur panjang bagi Mama dan Ibu kami Ya Allah, Papa dan Bapak kami sudah dalam "pelukanmu". Berikan kami kesempatan membahagiakan kedua ibu kandung kami... Amien...
Senin, 11 Januari 2010
soon-to be- a mother
Yeah masuk tahun baru 2010 ini, alhamdulillah kehamilan saya sudah masuk ke trisemester ke dua alias sudah masuk 4 bulan...Hmm trisemester pertama sepertinya tidak akan terlupakan dimana mau pagi-siang-sore selalu mual..Nggak bisa makan nasi dan air putih..And thanks God bulan ini berhasil naik 1kg..Fiuuuhhh setelah beberapa bulan ini selalu turun berat badan...
Before married : 52 kg
tekdung 1-1,5 bln : 55 kg
tekdung 1,5-2 bln : 54 kg
tekdung 2-3 bln : 51 kg
and now 4,5 bln : 52 kg
Dokter sih bilang harusnya minimal 55kg seperti awal kehamilan, tapi kok susah banget yaa...Huaaaaa sepertinya PR banget nih buat naikin berat badan..Doakan saya dan bayi ini sehat yaaa....
Before married : 52 kg
tekdung 1-1,5 bln : 55 kg
tekdung 1,5-2 bln : 54 kg
tekdung 2-3 bln : 51 kg
and now 4,5 bln : 52 kg
Dokter sih bilang harusnya minimal 55kg seperti awal kehamilan, tapi kok susah banget yaa...Huaaaaa sepertinya PR banget nih buat naikin berat badan..Doakan saya dan bayi ini sehat yaaa....
Langganan:
Postingan (Atom)

