Minggu, 17 Januari 2010

Belajar Dari Seorang Ibu Yang Sakit

(lagi-lagi dari multiply kacrut itu)

-Jan '09-

Waktu menjaga alm. ibu kekasih saya (sebelum beliau meninggal), saya sempat berbincang-bincang dengan seorang ibu muda yang dirawat tepat disamping Ibu. Berhubung malam itu tidak ada yang menjaganya, saya sempatkan untuk berbincang-bincang dengan sejenak. Kebetulan keluarga kekasih saya sedang berbicara dengan Ibu, jadi saya memberi kesempatan mereka yang baru saja datang menjenguk.

Awal bincang-bincang kami terasa basa-basi saja, dari bertanya sakit apa, kok sendiri saja, sejak kapan dirawat, kira-kira pulang kapan? ternyata pembahasan kami tidak sampai itu saja, bincang-bincang dengannya mulai mengasikkan. mungkin karena seperti si Ibu orang Betawi yang memang terkenal dengan ceplas-ceplosnya.

Perbincangan kami sedikit terhenti ketika ada suster yang memberikan obat untuk ia minum. Si Ibu menerima dengan muka musam, "Huh, minum obat terus, sampe bolod rasanya gara-gara kebanyakan minum obat," ujarnya,

Melihat mukanya saya langsung ingin menyemangatinya, "Kalau nggak mau minum obat ya harus sembuh dong Bu, makanya semangat biar cepat sembuh," paparku. Saya bantu mengambilkan air minum dan merobek bungkus obatnya, setelah dihitung jumlahnya ada 8 obat. Ya, penyakit asma kronis dan penyempitan pembuluh darah membuatnya dirawat di RS ini.

Si Ibu sempat berkata sendiri, yang tentunya saya bisa mendengar ucapannya, "Nggak tau mana yang obat asma, mana yang obat jantung."

Kebetulan saya sudah sangat terbiasa dengan obat-obatan untuk penyakit jantung yang pernah diidap alm Papa saya dan juga saya dulu pengidap asma juga. Jadi saya bisa langsung menunjukkan mana yang obat jantung dan yang mana obat asma. Agak kaget waktu si Ibu meminum semua obat sekaligus, karena setahu saya ada satu obat jantung yang sangat familiar yang biasanya Ayah saya minum dengan cara ditaruh di bawah lidahnya. padahal saya sempat bilang, "obat yang ini ditaruh di bawah lidah kan Bu?"

Tapi akhirnya saya hanya bisa terdiam, karena semua obat tetap saja diminum Ibu dengan cara ditelan seluruhnya.

Setelah perbincangan kembali berlanjut, kali ini si Ibu share tentang kondisi keluarganya. Menurutnya ia bisa sakit seperti ini karena makan hati punya suami yang lebih muda 7 tahun darinya, aneh menurutku.

"Saya ini makan hati mulu mbak punya laki muda banget, berasa punya satu bayi lagi yang harus diemong.Udah saya penyakitan gini, yang ada dia masih gagah sayanya usah kayak nenek-nenek," curhat si Ibu yang kalau dilihat wajahnya sudah hampir 40 tahun.

"Saya pernah bilang ke anak saya yang paling bontot, 'De, kalau mama nanti mati jangan sedih ya, nanti kan ada mama tiri yang baik. Ade bakal diajak jalan-jalan.' Eh kemaren waktu saya lagi nyesek, tiba-tiba anak saya ngomong, 'Mama kapan matinya? Kan Ade mau jalan-jalan sama mama tiri.' Sedih banget mbak, habis itu saya langsung parah dibawa ke RS deh."

Hehehe kalau inget cerita ini jadi mau ketawa...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar