Selasa, 26 Januari 2010

People Come And Go... part 1

Kemarin salah satu teman saya di kantor (red: mbak mes) kembali keluar.. Sedih, kalau ingat satu persatu-satu teman-teman keluar meninggalkan saya. 4 tahun lalu kami dikumpulkan di kantor ini untuk pembentukan majalah baru di KARTINI Group.

Dulu sebetulnya saya melamar di majalah KARTINI-nya, namun karena waktu itu saya masih harus menyelesaikan urusan kelulusan saya dan wisuda akhirnya saya belum bisa masuk di waktu yang diminta. Karena saya pikir mana mungkin ada perusahaan yang mau menunggu saya sampai saya wisuda, saya sempat hopeless. Ternyata tanpa disangka tiba-tiba saya ditelpon pihak HRD (yang sekarang sudah keluar juga tapi dengan image yang jelek)kalau saya diminta untuk datang lagi ke kantor namun kali ini untuk ikut pembentukan majalah baru yang diberi nama KARTIKA (entah kenapa dari awal saya tidak setuju nama ini, hehehe...)

Waktu itu selain HRD, Pemred (bu Endang yang juga merangkap Wapemred KARTINI), saya dikumpulkan dengan calon-calon partner saya nantinya. Ada Bu Yani, Bu Astuti (alm.), Pak Adri, Mbak Mes, Pak Aid dan Mas Arif. Sebetulnya ada Mas Dudung cuma karena dari awal rapat nggak terlihat keseriusannya (datang telat, kadang datang kadang nggak, ada aja alasannya) akhirnya mas Dudung nggak jadi gabung dengan tim kami.

Setelah beberapa kali rapat pembentukan rubrikasi akhirnya bulan Maret kami mulai masuk kerja secara rutin (sebelumnya rapat seminggu sekali) waktu itu masih di Jl. Iskandar Muda Kebayoran. Baru datang layaknya pindahan ke rumah baru saya dan tim menyeting tempat duduk, Deni (Ob) juga sibuk maku sana-sini bersama Pak Aid. masih ingat waktu itu saya masih suka dipanggil Kak Nina oleh Deni, padahal secara umur dia masih jauh lebih tua dari saya. Meski tim saya waktu itu masih belum ada yang muda, tapi saya tetap semangat.

Baru sebulan kemudian datang reporter baru Moh. Jasri (yang sekarang jadi suamiku, hehe...) dan Farid (Redaktur Kewanitaan). Setelah itu baru deh berasa tim yang utuh, magabut sampai bulan Agustus karena selama itu kita masih nyetok terus sebelum Agustus resmi terbit. Meski banyak perombakan rubrikasi, tapi kami tetap semangat ngejalaninnya. Oya ada juga supir-supir rusuh (Mas Agus alias Racun dan Mas Indar). Meski mereka hanya supir tapi kami sudah biasa jalan barang sampai sekarang ber-4 (saya, Jasri, Mas Agus dan Mas Indar)

Sampai akhir 2006 kami dipindahkan ke kantor di Jl. Garuda, sebetulnya kami diberi pilihan pindah ke kantor Grand Wijaya cuma karena malas dengan birokrasi sana yang ribet akhirnya kami memilih di Garuda saja meski jauh dari peradaban, hehe...

Dan sekarang, tim-tim saya itu berguguran...
Bu Astuti: meninggal dunia April 2007 (sedih banget karena ketika beliau meninggal saya juga sedang berkabung di kampung halaman setelah beberapa hari sebelumnya mengantar Ayah saya ke peristirahatannya yang terakhir). Saya sangat respect dengan alm, karena banyak pelajaran yang saya dapatkan selama kami satu tim. Bahkan kami pernah hampir seminggu liputan bareng di Pontianak menginap di satu kamar, jadi alm. sudah seperti ibu saya sendiri.
Pak Aid: mengundurkan diri akhir 2006, setelah beberapa bulan ditinggal meninggal istrinya, menurut berita Pak Aid lebih memilih untuk berwiraswasta agar bisa dekat dengan anak-anaknya. Apalagi ada satu anaknya yang masih bayi.
Moh. Jasri: Pria yang kini sekarang menjadi pasangan hidup saya ini mengundurkan diri karena ingin konsentrasi dengan pengobatan ayahnya yang saat itu sedang sakit keras (plus ada ketidak sreg-an dengan pihak HRD, ups...).
Pak Adri:Bapak yang satu ini unik banget,kemana-mana selalu naik angkot dan kakinya sepertinya sangat kuat karena bisa jalan kaki dengan jarak yang jauh. Jadi kalau saya mau ke suatu tempat, tinggal tanya dimana dan naik bis apa langsung deh dengan sigap Pak Adri menjelaskan. Menurut info, Pak Adri dulu penulis handal loh. Sayangnya tidak lama berselang resign-nya Jasri, Pak Adri juga tidak mau melanjutkan kontraknya. Selama ini Pak Adri memang merasa dizolimi di kantor ini, ditambah lagi partner ngobrolnya (red: Jasri) sudah tidak ada.
Mas Agus: Tidak lama dari Pak Adri resign, Mas Agus juga keluar karena sudah merasa capek banget kerja disini. apalagi waktu itu harus ngantar red kewanitaan yang katanya tidak seasyik tim feature (hehe..yaiyalah...)
Mas Indar: Bapak beranak 2 ini keluar karena setelah dipindahtugaskan dari supir jadi percetakan frekuensi berkumpul dengan keluarganya sangat sedikit karena harus sering ke Ciawi.
Mas Arif: Redaktur saya yang satu ini orangnya berjiwa muda, karena dia juga saya jadi ikutan wartawan geng bandung, alias wartawan-wartawan yang sering ngeliput di wilayah bandung. Meski sudah keluar saya pun masih berhubungan baik dengannya.
Titik: Desain grafis yang satu ini sebetulnya sangat loyal dan tahan banting meski rumahnya sangat jauh (depok bo'). Tapi sayangnya setelah ibu mertuanya sakit ia harus berhenti karena anaknya tidak ada yang mengurus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar