Yuhuuuuu....
Akhirnya saya berhasil membuat online shopping dimana sebetulnya saudah jadi impian saya dan abi sejak lama. Namanya juga masih baru, jadi utnuk sementara memang masih ngumpul-ngumpulin barang-barang yang bisa dijual (yang unik, yang nggak terlalu pasaran) di online shopping kami ini.
Sebetulnya saya dan abi mau kasih nama "Ninja BabyNKid Collection", tapi entah kenapa dari awal kayaknya ribet banget. Saya sampai harus membuat 2 account di gmail & yahoo, dua kali pula bikin account di FB, hehehe... Sampai akhirnya yang diapprove "Neena BabyNkid Shop".
Pasti ada yang bertanya kenapa harus pakai Ninja... Jadi sebetulnya saya dan abi memang ada niat buat kaos kreasi& beberapa kreasi yang lain yang akan kami beri nama "Ninja Collection". Harusnya sih bisa ngeh kenapa kami kasih nama Ninja, yup..Ninja memang singkatan dari nama kami "Nina dan Jasri".
Yah bismillah, semoga ini bisa jadi ladang rezeki baru buat kami meski awalnya tujuannya utnuk ngisi waktu luang disaat cuti melahirkan yang rencananya akan saya ambil tanggal 10 Mei, kalau dihitung waktu itu kehamilan saya hampir masuk 36 minggu. Memang masih 4 minggu dari kelahiran yang biasanya 40 minggu, tapi dengan kondisi kehamilan, pasca opname, posisi bayi yang sudah dibawah, abi sudah maksa utnuk dipercepat saja cutinya, katanya ngeri kalau dijalan naik motor, deg-degan klo ada ajlukan nggak kelihatan, belum lagi banyak kendaraan yang suka nggak sabar jalan di belakang kami (secara abi ngendarain motor alon-alon asal kelakon). Untuk kali ini saya tidak membantah, nggak bisa dipungkiri saya juga sekarang cepat merasa pegal, habis naik motor sering perut langsung tegang.
Kembali ke topik utama, so doain ya semoga online shopping kami berjalan lancar, banyak konsumennya, sapa tau bisa berenti kerja sama orang nantinya konsentrasi di bisnis sendiri...
CAIYO!!!!
Senin, 26 April 2010
Senin, 12 April 2010
3 Tahun Berlalu
Tak terasa sudah 3 tahun (12 April 2007) papa saya "pergi" meninggalkan kami selamanya di dunia ini (tapi tidak pernah hilang dari hati kami).
Alhamdulillah kondisi sudah mulai berjalan normal, tidak seperti tahun-tahun awal dimana mama kami masih suka menangis. Sekarang sih sebetulnya mama masih suka nangis kalau ingat papa, tapi paling tidak sudah jauh berkurang intensitasnya.
Sayang papa tidak sempat melihat betapa lucunya abang opal, centilnya uni syifa n betapa cantiknya n pintarnya anak kami yang InsyaAllah akan segera lahir..
Semoga papa bahagia di dunia sana ya pa..
We miss u much Pa... >_<
Kamis, 08 April 2010
OPNAME....(hikss..hikss...)
Pada saat menulis ini saya masih bedrest akibat harus dipname 3 hari di minggu lalu karena kontraksi prematur yang pernah saya bahas sebelumnya...
Yup..akhirnya saya menyerah dengan keputusan dokter untuk diopname karena kali ini kondisi sudah makin parah, kontraksi makin sering terjadi bahkan terakhir sampai sejam sekali. sebelumnya memang sakitnya luar biasa kalau habis jalan jauh, naik turun tangga, turun dari motor bahkan kalau lagi shalat perut bawah saya harus pegang karena tegangnya minta ampun.
Mau tahu rasanya kontraksi? Yang pasti sakiiiiiiittttt bangetttt!!!!
Perut bawah rasanya tegang (pernah merasakan sakit kembung yang luar biasa kalau magh kumat? mungkin rasanya kurang lebih seperti itu), rahim terasa keras jadi terkadang kalau lagi kontraksi saya merasa perut ini seperti bola yang kekencengan diisi gas. nah untuk yang kali ini sampai gerak saja sakitnya minta ampun, belum lagi ketika janin menendang keras, terkadang saya sampai teriak kecil mengaduh karena rasanya sakit sekali.
Sebetulnya saya cuma mau konsultasi ke dokter di jadwal periksa 7 bulan kemaren. Maksud hati mau minta obat pencegah kontraksi yang sudah habis. Namun setelah mendengar cerita saya dan Abi, suster dan dokter juga kaget waktu saya tiduran hendak USG perut terasa keras. Saat itu saya bilang, "wah ini sih pas lagi nggak terlalu sakit suster, biasanya jauh lebih keras dan dipegangpun sakit"
Saya melihat wajah dokter agak panik, yang biasanya dia USG sambil duduk, matanya menantap layar dan tangan memegang alat USG mengelilingi perut saya kali ini berbeda. Dokter justru berdiri sambil berhati-hati menggerak-gerakkan alat USG ke perut saya. Kalau saya agak mengerang karena sakit dokter pun mengurangi tekanannya menggerakkan alat USG. Dokter pun berkata, "wah kalau begini terus bisa terjadi pembukaan loh bu, bisa lahir prematur."
Saya pun memandang Abi dengan muka bingung-panik. Dokter pun terus memandang layar USG, "posisi bayinya sudah di bawah nih bu, harusnya kan masih diatas kalau 7 bulan. Beratnya juga masih 1,1 kg kalau harus keluar sekarang kasihan masih kecil banget. Kita opname aja ya pak, jangan sampai terjadi bukaan rahim bisa bahaya."
Huhuhu saya berusaha tenang mendengar penjelasan dokter, setelah itu saya dibantu suster turun dari tempat tidur kembali ke ruangan konsultasi. Saya berusaha merayu dokter, "Memang harus diopname dok? Nggak bisa minum obat saja?"
Dulu saya sih memang sudah pernah 2 kali diopname karena demam berdarah & magh akut, tapi kali ini kan ada bayi di dalam rahim saya. Rasanya nggak tega masih dalam kandungan sudah merasakan dimasukkan banyak obat.
Namun kali ini dokter sudah sangat tegas, "Kali ini harus bu, berarti obat yang sebelumnya kurang ampuh mencegah kontraksi. jadi mau nggak mau harus yang lewat infus dan dikasih obat penguat paru-paru kalau-kalau harus lahir prematur. Mau kapan diopname, malam ini ya?"
Hmmm... saya bingung, malam itu ponakan saya juga ternyata positif types setelah beberapa hari panasnya naik-turun. Akhirnya saya berhasil merayu dokter untuk pending opname sampai besok paginya. Untung saya alasan saya yang ingin ngomong baik2 sama orangtua biar nggak kaget n stres karena saat bersamaan ponakan juga lagi sakit types diterima dokter. Dokterpun sudah menginstruksi suster apa saja tindakan medis yang akan diberikan saya esok pagi.
Sesampai dirumah saya dan abi bingung gimana cara kasih tahu ke ibu saya, konsentrasinya sedang terpecah dengan ponakan saya yang sedang sakit. Akhirnya kami mencoba berbicara dengan abang-abang saya dulu, biar mereka saja yang pelan-pelan berbicara dengan ibu saya tentang kondisi kehamilan saya yang mengharuskan diopname. Tidak berapa lama abang saya berbicara dengan ibu kami, kemudian ibupun mengetuk kamar kami dengan muka yang panik menahan nangis sambil mengelus perut saya beliau berkata, "Kalau memang harus dirawat yaudah gpp dirawat aja. Tapi kata dokter nggak ada masalah kan?" saya pun berusaha menenangkan ibu saya dengan berkata, "gpp kok ti, cuma kontraksi aja. Biar nggak terus-terusan kontraksi harus dimasukin obat yang lebih kuat lewat infus."
Malam itu saya berusaha tidur tenang, namun tetap saja bayangan esok pagi harus diopname selalu saja hadir di benak saya. Jam 5 saya dan suami bangun, setelah shalat Shubuh kami mulai mengemas barang-barang yang kami anggap penting saja yang harus kami bawa ke RS. Abi pun menelpon teman kantornya untuk izin tidak masuk kerja, alhamdulillah diperbolehkan meski harus ambil jatah cuti tahunan tapi tak apa. Jam 7 pagi setelah kami mandi kami segera ke RS, saya pun hanya memakai daster karena saya pikir lebih nyaman ditubuh, kalau pakai piyama kadang celananya suka menekan perut apalagi sekarang rahim saya sedang kontraksi.
Sesampai di RS kami langsung disambut suster yang sudah tahu kalau kami akan datang untuk opname. Saya langsung dibimbing ke ruangan bersalin untuk dipasang infus dan disuntik obat. Masuk ke ruangan tersebut, saya dan abi langsung membayangkan 2 bulan lagi anak kami akan lahir di ruangan ini. Secara sigap, saya dipasang infus, disuntik obat pencegah kontraksi dan penguat paru-paru untuk anak kami (antisipasi terjadi pembukaan rahim dan harus segera lahir prematur). Setelah Abi mengisi form rawat inap, saya langsung dibimbing menuju ruangan kelas 2. Dan resmilah saya dirawat, huhuhu....
Hari-hari pertama rahim saya masih kontraksi, apalagi karena pakai infus mau tidak mau jadi sering pipis, dan tahu tidak kalau sudah mau pipis rasanya perut ini makin tegang. Dan begitu juga paska pipis, sering kali perut ini terasa seperti bola mengeras. Akhirnya sejak hari ke-2 saya harus pipis di tempat tidur alias pakai pispot, huhuhu sebal banget... Namun apalah daya, jalan ini harus diambil agak saya tidak terlalu banyak gerak, mengurangi kontraksi dan bisa cepat pulang.
Makanannya sih enak-enak, jangan bayangkan makanan-makanan yang di RS ya, mungkin karena namanya bumil harus banyak makan makanan yang bergizi. pagi-pagi saya sudah dapat susu coklat hangat, kemudian sarapan nasi goreng. Jam 10 jatahnya kacang hijau. Jam 11 sudah datang menu makan siang yang banyak banget lauknya n enak-enak plus buah-buahan tentunta. Jam 3-an datang cemilan, kadang roti, donat, gorengan dll. Sebelum magrib sudah datang menu makan malam yang menunya nggak kalah banyak sama makan siang. Wah ajdi nggak kebayang pasti BBku langsung naik sepulang dari sini.
Dan benar saja, setelah 3 hari saya dibolehkan pulang (karena kondisi sudah membaik, setelah diperiksa dalam tidak terjadi pembukaan rahim, saluran infus juga sudah mampet karena darah saya membeku-mungkin karena kebanyakan gerak, hehehe-) Sebelum pulang saya sempat cek BB dan naik set kg dari 3 hari lalu waktu saya cek rutin bulanan.
Meski setelah ini orang rumah jadi rewel banget nyuruh saya percepat cuti, tapi yang membuat saya agak sedih saya memang harus sangat mengurangi aktifitas, tanpa disuruh sepertinya saya juga akan tetap melakukan, karena sekarang capek sedikit, bahkab banyak jalan di dalam di rumah aja sudah terasa tegang perut ini. Saya pun harus mengikuti wejangan dari para suster biar tidak terjadi kontraksi lagi (nggak boleh bersihin puser, p*tin*g, ngelus-ngelus perut-cukup disentuh atau diraba sedikt saja-, kurangin naik-turun tangga, shalat duduk biar tidak nungging) huhuhu padahal saya paling suka mengelus perut sambil mengajak anak kami ngobrol.
Terimakasih atas ketelatenan dokter n suster2 di RB Yayayasan Rahiem, Abi-ku tersayang yang selalu setia menemani n menyemangati selama dirawat, keluarga, tetangga dan teman-teman yang selalu menyemangati. Semoga selanjutnya dirawat lagi karena sudah mau lahiran ya dek, jangan pake acara begini lagi...
I Love U Babyinside..
Rabu, 07 April 2010
Kontraksi Prematur
Membaca judulnya kalian pasti bingung maksudnya apa? awalnya saya juga bingung, tapi kenyataannya itulah yang terjadi pada kehamilan pertama saya ini. Sebetulnya sejak usia kandungan 4 bulan saya memang sering merasakan perut tegang terutama bangun dari tidur. sempat saya konsultasikan ke dokter, saat itu tidak ada tindakan apa-apa, dokter hanya menyarankan saya untuk mengurangi aktivitas dan kalau bangun tidak boleh langsung grabag-grubug, paling tidak spare waktu 15 menit-set jam utnuk diam dului baru rubah posisi miring sambil pelan-pelan bangun.
Bingung juga, mungkin emmang salah saya yang tidak bisa membatasi aktivitas, tapi serba salah juga karena meski sedang hamil kantor tidak memberikan dispensasi pengurangan beban pekerjaan, akhirnya kemana-mana saya tetap liputan yang kerap kali naik bis, padahal saya lebih memilih naik busway yang lebih manuasiawi untuk bumil loh. mungkin kadang masih naik bis umum dan naik busway pun tetap saja mengharuskan saya jalan kaki jauh utnuk melewati jembatan penyebrangan.
Belum lagi posisi ruangan di lantai 2 yang mengharuskan saya naik turun tangga, jalan sedikit jika ingin ke toilet atau shalat akhirnya di bulan ke 6 perut tegang makin sering terasa. Merasa khawatir saya kembali konsultasi ke dokter kandungan masalah ini, padahal baru 2 minggu yang lalu saya konsultasi. karena tidak tahan setelah 3 hari terakhir ini sering kram perut bawah, bahkan kali ini gerak sedikit saja, bahkan bersin langsung terasa sakit. siang itu juga saya menelpon abi sambil menangis (nggak sadar bo'..) minta abi izin pulang cepat karena saya sudah tidak tahan lagi. akhirnya hari itu kami pulang cepat dengan harapan bisa istirahat dulu di rumah sebelum malamnya konsultasi ke dokter.
Kali ini wajah dokter agak kaget dan bilang seharusnya dibulan ke-6 belum boleh seperti ini, Ini berarti kontraksi dini (kontraksi prematur). Saya pun diberi obat tambahan utnuk mencegah kontraksi yang diminum sehari 2 kali dengan aturan kalau samapai 3 hari minum obat tidak berkurang atau obat habis tidak hilang juga kontraksinya harus segera diinfus. Saya dan suamipun saling berpandangan kaget, dalam hati saya bilang "aduh nggak mau diopname!!!!"
Dokter pun memaksa saya untuk bedrest seminggu dengan harapan kontraksi ini bisa berkurang bahkan hilang. Tapi kenyataannya obatnya habis tapi perut saya masih suka tegang. Saya hanya bisa berdoa semoga kondisi ini tidak berkelanjutan. Amien...
Bingung juga, mungkin emmang salah saya yang tidak bisa membatasi aktivitas, tapi serba salah juga karena meski sedang hamil kantor tidak memberikan dispensasi pengurangan beban pekerjaan, akhirnya kemana-mana saya tetap liputan yang kerap kali naik bis, padahal saya lebih memilih naik busway yang lebih manuasiawi untuk bumil loh. mungkin kadang masih naik bis umum dan naik busway pun tetap saja mengharuskan saya jalan kaki jauh utnuk melewati jembatan penyebrangan.
Belum lagi posisi ruangan di lantai 2 yang mengharuskan saya naik turun tangga, jalan sedikit jika ingin ke toilet atau shalat akhirnya di bulan ke 6 perut tegang makin sering terasa. Merasa khawatir saya kembali konsultasi ke dokter kandungan masalah ini, padahal baru 2 minggu yang lalu saya konsultasi. karena tidak tahan setelah 3 hari terakhir ini sering kram perut bawah, bahkan kali ini gerak sedikit saja, bahkan bersin langsung terasa sakit. siang itu juga saya menelpon abi sambil menangis (nggak sadar bo'..) minta abi izin pulang cepat karena saya sudah tidak tahan lagi. akhirnya hari itu kami pulang cepat dengan harapan bisa istirahat dulu di rumah sebelum malamnya konsultasi ke dokter.
Kali ini wajah dokter agak kaget dan bilang seharusnya dibulan ke-6 belum boleh seperti ini, Ini berarti kontraksi dini (kontraksi prematur). Saya pun diberi obat tambahan utnuk mencegah kontraksi yang diminum sehari 2 kali dengan aturan kalau samapai 3 hari minum obat tidak berkurang atau obat habis tidak hilang juga kontraksinya harus segera diinfus. Saya dan suamipun saling berpandangan kaget, dalam hati saya bilang "aduh nggak mau diopname!!!!"
Dokter pun memaksa saya untuk bedrest seminggu dengan harapan kontraksi ini bisa berkurang bahkan hilang. Tapi kenyataannya obatnya habis tapi perut saya masih suka tegang. Saya hanya bisa berdoa semoga kondisi ini tidak berkelanjutan. Amien...
Langganan:
Postingan (Atom)

