Membaca judulnya kalian pasti bingung maksudnya apa? awalnya saya juga bingung, tapi kenyataannya itulah yang terjadi pada kehamilan pertama saya ini. Sebetulnya sejak usia kandungan 4 bulan saya memang sering merasakan perut tegang terutama bangun dari tidur. sempat saya konsultasikan ke dokter, saat itu tidak ada tindakan apa-apa, dokter hanya menyarankan saya untuk mengurangi aktivitas dan kalau bangun tidak boleh langsung grabag-grubug, paling tidak spare waktu 15 menit-set jam utnuk diam dului baru rubah posisi miring sambil pelan-pelan bangun.
Bingung juga, mungkin emmang salah saya yang tidak bisa membatasi aktivitas, tapi serba salah juga karena meski sedang hamil kantor tidak memberikan dispensasi pengurangan beban pekerjaan, akhirnya kemana-mana saya tetap liputan yang kerap kali naik bis, padahal saya lebih memilih naik busway yang lebih manuasiawi untuk bumil loh. mungkin kadang masih naik bis umum dan naik busway pun tetap saja mengharuskan saya jalan kaki jauh utnuk melewati jembatan penyebrangan.
Belum lagi posisi ruangan di lantai 2 yang mengharuskan saya naik turun tangga, jalan sedikit jika ingin ke toilet atau shalat akhirnya di bulan ke 6 perut tegang makin sering terasa. Merasa khawatir saya kembali konsultasi ke dokter kandungan masalah ini, padahal baru 2 minggu yang lalu saya konsultasi. karena tidak tahan setelah 3 hari terakhir ini sering kram perut bawah, bahkan kali ini gerak sedikit saja, bahkan bersin langsung terasa sakit. siang itu juga saya menelpon abi sambil menangis (nggak sadar bo'..) minta abi izin pulang cepat karena saya sudah tidak tahan lagi. akhirnya hari itu kami pulang cepat dengan harapan bisa istirahat dulu di rumah sebelum malamnya konsultasi ke dokter.
Kali ini wajah dokter agak kaget dan bilang seharusnya dibulan ke-6 belum boleh seperti ini, Ini berarti kontraksi dini (kontraksi prematur). Saya pun diberi obat tambahan utnuk mencegah kontraksi yang diminum sehari 2 kali dengan aturan kalau samapai 3 hari minum obat tidak berkurang atau obat habis tidak hilang juga kontraksinya harus segera diinfus. Saya dan suamipun saling berpandangan kaget, dalam hati saya bilang "aduh nggak mau diopname!!!!"
Dokter pun memaksa saya untuk bedrest seminggu dengan harapan kontraksi ini bisa berkurang bahkan hilang. Tapi kenyataannya obatnya habis tapi perut saya masih suka tegang. Saya hanya bisa berdoa semoga kondisi ini tidak berkelanjutan. Amien...
Rabu, 07 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar